![]() |
| Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandri |
Menurut Nofiandri, saat ia mengemudi, kondisi jalur seharusnya aman. Namun, tiba-tiba sinyal berubah secara mendadak, tidak sesuai prosedur operasional standar. "Dari Bekasi, sinyalnya hijau. Seharusnya di sini maksimal kuning, bukan merah," ungkap Nofiandri di lokasi. Ia menegaskan bahwa perubahan sinyal ke merah tanpa komunikasi sebelumnya membuat keretanya berhenti paksa.
Nofiandri juga memastikan bahwa KA Argo Bromo Anggrek melaju pada kecepatan normal operasional, yakni sekitar 110-120 km/jam, batas maksimal yang diizinkan. Meski masih syok, ia menegaskan bahwa keselamatan penumpang tetap prioritas.
Penyelidikan pun masih berlanjut,
termasuk pemeriksaan data dari kotak hitam (black box) dan log sistem persinyalan pusat. Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban meninggal mencapai 15 orang, seluruhnya perempuan, akibat posisi gerbong wanita yang tertabrak. Selain itu, setidaknya 88 orang dilaporkan luka-luka akibat benturan hebat tersebut.


Social Footer
Cari Blog Ini
Label